Kamis, 28 Oktober 2010

Struktur Ruang Kota

Kota sebagai pusat kegiatan mempunyai bagian yang disebut inti kota (core of city), yaitu sebagai pusat kegiatan ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, dan kebudayaan. Daerah seperti ini dinamakan Central Business District (CBD) yang berkembang dari waktu ke waktu sehingga meluas hingga keluar daerahnya. Daerah pengembangan kota seperti ini disebut Daerah Selaput Kota (SIK). Penggunaan lahan kota umumnya didominasi untuk pemukiman, sektor jasa (jalan, rel kereta api, stasiun, terminal), perdagangan (toko, pasar, gudang), pendidikan, kesehatan. Pemerintahan, dan lain sebagainya. Adanya berbagai fasilitas dan bermacam-macam aktivitas masyarakat kota akan membentuk struktur kota yang berbeda dengan struktur di desa.
Ada beberapa teori yang melandasi struktur ruang kota, namun yang terkenal ada tiga teori. Ketiga teori tersebut adalah teori Konsentris, teori Sektoral, dan teori Inti Berganda. Menurut teori Konsentris (Burgess, 1925) CBD terdiri atas dua bagian, yang pertama adalah Retail Business Distric (RBD) yang merupakan bagian paling inti. Daerah ini lebih dominan digunakan sebagai kawasan pertokoan, perkantoran dan jasa. Yang kedua adalah Wholesale Business District (WBD) yang merupakan bagian paling luar. Daerah ini ditempati oleh bangunan dengan peruntukan kegiatan ekonomi dengan skala besar, seperti pasar, gudang, dan gedung penyimpanan barang.
Teori Konsentris membagi kota dalam 6 zona. Keenam zona tersebut adalah:
1. Zona pusat daerah kegiatan yang biasa disebut Central Business District (CBD). Daerah ini biasanya terdapat pusat pertokoan besar, gedung perkantoran bertingkat, bank, museum, hotel, dan lain sebagainya.
2. Zona peralihan atau zona transisi. Penduduk pada zona ini bisa dikatakan tidak stabil, baik dari tempat tinggal maupun sosial ekonomi. Walaupun pada daerah ini sering dijumpai kawasan kumuh, sebenarnya zona ini merupakan zona pengembangan industri sekaligus menghubungkan antara pusat kota dengan daerah lain disekitarnya.
3. Zona pemukiman klas proletar. Pada zona ini banyak ditemui rumah-rumah kecil yang kurang menarik serta rumah-rumah sederhana yang dihuni oleh keluarga yang mempunyai banyak anggota. Biasanya rumah seperti ini didiami oleh para pekerja yang mempunyai penghasilan kecil atau buruh, serta karyawan kelas bawah.
4. Zona pemukiman kelas menengah (residental zone). Pada zona ini merupakan kompleks perumahan para karyawan kelas menegah yang memiliki keahlian tertentu.
5. Wilayah tempat tinggal masyarakat berpenghasilan tinggi. Zona ini ditandai dengan adanya kawasan elit, perumahan, dan halaman yang luas. Sebagian besar penduduk yang tinggal di zona ini bekerja sebagai pengusaha besar, kaum ekskutif, dan pejabat tinggi.
6. Zona penglaju (commuter). Zona ini merupakan zona perbatasan desa-kota dan daerah yang memasuki daerah pedalaman (hinterland). Biasanya penduduk pada zona ono bekerja di kota tetapi merek tinggal di daerah pinggiran.
Menurut Homer Hoyt yang mengemukakan tentang teori sektoral, struktur ruang kota cenderung berkembang berdasarkan sektor-sektor daripada berdasarkan lingkaran-lingkaran konsentrik. CBD tetap terletak di pusat kota, namun bagian yang lainnya berkembang menurut sektornya masing-masing. Hal ini dipengaruhi oleh faktor geografis, misalnya bentuk lahan dan pengembangan jalan sebagai sarana komunikasi dan transportasi.
Menurut teori Inti Berganda, CBD adalah pusat kota yang memiliki fungsi sebagai “growing points” dan letaknya relatif di tengah sel lainnya. Zona ini merupakan pusat kota yang menampung semua kegiatan kota, berupa fasilitas transportasi dan didalamnnya terdapat distrik yang mempunyai spesialisasi pelayanan. Contohnya distrik khusus perbankan. Perbedaan teori ini dengan dua teori sebelumnya adalah teori Inti Berganda terdapat banyak CBD yang letaknya tidak persis ditengah kota dan tidak selalu berbentuk bundar.
Dalam teori Von Thunen perbedaan dalam zona lahan dan struktur ruang kota mengindikasikan bahwa harga sewa lahan dipengaruhi lokasi dari titik referensi, biasanya adalah pusat kota (downtown, CBD). Selain itu harga juga dipengaruhi oleh jaringan transportasi. Apabila jaringan transportasi di suatu kawasan cukup memadai maka harga sewa lahannya akan semakin mahal. Selain itu gaya hidup dan perilaku masyarakat juga mempengaruhi harga sewa lahan. Contohnya suatu kawasan dianggap dianggap sebagai kawasan elite karena kawasan tersebut merupakan kawasan strategis yang dekat dengan pusat perdagangan atau mempunyai pemandangan yang indah, sehingga masyarakat merasa nyaman untuk tinggal di kawasan tersebut. Dengan adanya anggapan demikian kawasan tersebut akan mempunyai harga sewa yang mahal.

DASAR-DASAR TEORI VON THUNEN

Johann Heinrich Von Thunen (1783-1850) adalah seorang warga negara Jerman uang merupakan ahli ekonomi pertanian yang mengeluarkan teorinya dalam buku Der Isolirte Staat. Von Thunen mengembangkan teori ini berdasarkan pengamatan di sekitar tempat tinggalnya. Menurutnya pertanian merupakan komoditi yang cukup besar di perkotaan. Dalam teori ini ia memperhatikan jarak tempuh antara daerah produksi dan pasar, pola tersebut termasuk variabel keawetan, berat, dan harga dari berbagai komoditas pertanian. Ia menggambarkan bahwa jenis penggunaan tanah yang ada di suatu daerah dipengaruhi perbedaan ongkos transportasi tiap komoditas ke pasar terdekat.
Melalui teorinya, Von Thunen menciptakan bagaimana cara berfikir efektif yang didasarkan atas penelitian dengan menambahkan unsur-unsur baru sehingga didapatkan hasil yang mendekati konkret. Von Thunen mengeluarkan 7 asumsi mengenai tanah pertanian. Teori ini dikeluarkan sebelum era industrialisasi.
1. Terdapat suatu daerah yang merupakan satu-satunya daerah pemasok kebutuhan pokok yang merupakan komoditi pertanian (Isolated Stated).
2. Daerah perkotaan hanya menjual kelebihan produksi daerah pedalaman, tidak menerima penjualan hasil pertanian dari daerah lain (Single Market).
3. Daerah pedalaman hanya menjual kelebihan produksinya ke perkotaan, tidak ke daerah lain (Single Destination).
4. Daerah pedalaman atau kota mempunyai ciri yang sama (homogen) dengan kondisi geografis kota itu sendiri.
5. Petani akan menanam tanaman yang dapat memberi manfaat dan profit maksimum. Jenis tanaman yang ditanam rata-rata mengikuti permintaan yang ada (Maximum Oriented).
6. Pada waktu itu hanya ada angkutan berupa gerobak yang ditarik oleh kuda (One Moda Transportation).
7. Biaya transportasi berbanding lurus dengan jarak yang ditempuh. Semua biaya transportasi ditanggung oleh petani (Equidistant).
Dari ketujuh asumsi diatas memaksa petani untuk menyewa lahan dekat dengan pusat pasar atau kota. Dengan begitu akan diperoleh keuntungan yang maksimal dari hasil pertanian. Tetapi mereka juga harus rela mengeluarkan banyak uang, karena semakin dekat dekan pusat pasar harga sewa lahan akan semakin mahal. Petani sendiri memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyewa lahan. Makin tinggi kemampuan petani untuk menyewa lahan maka ia akan mendapatkan lokasi yang semakin dekat dengan pusat pasar. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan lokasi mempengaruhi nilai harga lokasi sesuai dengan tata guna lahannya.
Hingga saat ini teori Von Thunen masih dianggap cukup relevan. Contohnya persediaan lahan di daerah perkotaan memicu berlakunya hukum ekonomi, semakin langka barang, permintaan meningkat maka harga akan semakin mahal. Sama halnya seperti lahan di daerah perkotaan, semakin dekat dengan pusat kota akan semakin mahal nilai sewa atau beli lahannya. Harga lahan di perkotaan akan semakin bertambah dari tahun ketahun mengikuti dengan perkembangan zaman.
Penggunaan teknologi modern yang berkembang saat ini menjadikan teori Von Thunen menjadi kurang relevan. Contoh kekurangan teori Von Thunen ialah:
1. Kemajuan transportasi dapat menghemat banyak waktu dan biaya;
2. Ada beberapa daerah yang tidak hanya memiliki 1 merket center saja, tetapi juga 2 market center;
3. Adanya berbagai bentuk pengawetan, sehingga mencegah resiko busuk pada pengiriman jarak jauh;
4. Kondisi topografis setiap daerah berbeda-beda, sehingga hasil pertanian yang akan dihasilkanpun akan berbeda;
5. Negara industri mampu membentuk kelompok produksi sehingga tidak terpengaruh pada kota;
6. Antara produksi dan konsumsi telah terbentuk usaha bersama menyangkut pemasarannya.
Inti dari teori Von Thunen adalah bahwa sewa lahan akan memiliki harga yang berbeda, tergantung dengan tata guna lahannya. Lahan yang berada di pusat kota akan memiliki harga sewa lahan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sewa lahan di daerah pedalaman atau pinggiran kota. Karena makin jauh jarak yang akan ditempuh, maka makin mahal biaya transportasi yang akan dikeluarkan. Selain itu petani juga dapat mengurangi resiko membusuknya hasil pertanian karena jarak yang ditempuh cukup jauh dari pusat kota. Jika seorang petani mampu menyewa lahan yang dekat dengan pusat kota maka ia akan memperoleh hasil yang maksimal karena tidak perlu membayar biaya transportasi yang mahal.
Tetapi beberapa teori Von Thunen sudah dianggap tidak cukup relevan untuk saat ini. Ini karena adanya perkembangan teknologi modern yang dapat membantu petani mempermudah pendistribusian hasil pertaniannya meski jarak yang ditempuh cukup jauh dari pusat kota. Saat ini sudah banyak alat transportasi yang tidak memakan banyak waktu sehipengiriman hasil pertanian dapat tepat waktu dan mengurangi resiko pembusukan. Pada saat ini juga sudah banyak cara yang digunakan untuk mengawetkan hasil pertanian yang cukup aman bagi kesehatan, sehingga meski jarak yang ditempuh cukup jauh dan memakan waktu yang cukup lama, hasil pertanian tidak akan busuk dan masih layak konsumsi saat tiba di pusat kota. Dengan adanya perkembangan teknologi modern semacam ini maka para petani yang tidak memiliki lahan di pusat kota akan tetap memperoleh hasil yang maksimal.

PENGERTIAN TEORI LOKASI, ANALISIS LOKASI DAN POLA RUANG

Pengertian teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang potensial, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai macam usaha atau kegiatan lain baik ekonomi maupun sosial (Tarigan, 2006:77). Pengertian teori lokasi yang lainnya adalah suatu penjelasan teoritis yang dikaitkan dengan tata ruang dari kegiatan ekonomi. Hal ini selalu dikaitkan pula dengan alokasi geografis dari sumber daya yang terbatas yang pada gilirannya akan berpengaruh dan berdampak terhadap lokasi berbagai aktivitas baik ekonomi maupun sosial.
Pertama kali yang mengembangkan teori lokasi adalah Von Thunen pada tahun 1880, namun teori ini lokasi diperkenalkan secara utuh oleh Walter Isard pada tahun 1952. Teori lokasi merupakan teori yang dapat digunakan dalam berbagai bidang, seperti bidang geografi dan ekonomi. Namun pada awal perkembangannya teori ini lebih kepada bidang geografi daripada bidang ekonomi. Terdapat tiga hal yang menimbulkan permasalahan seperti ini. Yang pertama, teori lokasi lebih menarik ahli geografi daripada ahli ekoomi, sehingga teori lokasi merupakan bagian dari ilmu geografi. Yang kedua, peralatan yang digunakan dianggap tidak biasa bagi ahli ekonomi sehingga tidak menarik bagi mereka yang membidanginya. Yang ketiga, teori lokasi yang pada awal dikembangkan dalam tiga bentuk yang pada waktu itu lebih tampak berdiri sendiri.
Sebagian besar dasar teori ekonomi diasumsikan membatasi ruang dan jarak. Beberapa ahli ekonomi telah mengetahui pentingnya arti lokasi tetapi tidak banyak yang berusaha untuk memperkenalkan modal lain dengan beberapa variabel secara teoritis. Dan sebagian lagi menganggap bahwa keterangan lokasi yang membutuhkan analisis yang kuat serta tata cara yang diterapkan untuk dimengerti, terutama dari segi tingkah laku usaha. Alfred Weber adalah seorang ahli yang mengemukakan teori lokasi dengan pendekatan ekonomi. Namun ia merupakan penerus Wilhem Lounhart (1882-1885) yang menunjukkan bagaimana mengoptimalkan lokasi dengan menyerderhanakan hanya dua sumber material dan satu pasar yang disajikan dalam bentuk locational triangle.
Teori Christaller (1933) menjelaskan bagaimana susunan dari besaran kota, jumlah kota, dan distribusinya di dalam satu wilayah. Menurut Christaller, pusat-pusat pelayanan cenderung tersebar di dalam wilayah menurut pola berbentuk heksagon (segi enam). Keadaan seperti itu akan terlihat dengan jelas di wilayah yang mempunyai dua syarat. Pertama, topografi yang seragam sehingga tidak ada bagian wilayah yang mendapat pengaruh dari lereng dan pengaruh alam lain dalam hubungan dengan jalur pengangkutan. Kedua, kehidupan ekonomi yang homogen dan tidak memungkinkan adanya produksi primer, yang menghasilkan padi-padian, kayu atau batu bara.
Analisis keruangan adalah analisis lokasi yang menitik beratkan pada tiga unsur jarak (distance), kaitan (interaction), dan gerakan (movement). Tujuan dari analisis keruangan adalah untuk mengukur apakah kondisi yang ada sesuai dengan struktur keruangan dan menganalisa interaksi antar unit keruangan yaitu hubungan antara ekonomi dan interaksi keruangan, aksebilitas antara pusat dan perhentian suatu wilayah dan hambatan interaksi. Hal ini didasarkan olah adanya tempat-tempat (kota) yang menjadi pusat kegiatan bagi tempat-tempat lain, serta adanya hirarki diantara tempat-tempat tersebut.
Pada kenyataanya dalam suatu wilayah mempunyai keterkaitan fungsional antara satu pusat dengan wilayah sekelilingnya dan adanya dukungan penduduk untuk keberadaan suatu fungsi tertentu dimana barang mempunyai sifat goods order dan tidak setiap barang atau jasa ada di tempat. Perkembangan tempat-tempat sentral tergantung konsumsi barang sentral yang dipengaruhi faktor penduduk, permintaan dan penawaran serta harga, juga kondisi wilayah dan transportasi seperti yang telah dikemukakan oleh Christaller dalam Central Place Theory.
Suatu wilayah memiliki ketergantungan pada wilayah lain. Pada setiap wilayah memiliki kelebihan dibanding yang lain sehingga wilayah tersebut memiliki beberapa fasilitas yang mampu melayani kebutuhan penduduk dalam radius yang lebih luas, sehingga penduduk akan mendatangi wilayah tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka. Perbedaan tingkat kepemilikan sumberdaya dan keterbatasan kemampuan wilayah dalam mendukung kebutuhan penduduk suatu wilayah menyebabkan terjadinya pertukaran barang, tenaga kerja dan jasa antar wilayah (Morlok,1988). Agar dapat tetap melangsungkan kehidupannya, manusia mempergunakan ruang tempat tinggal yang disebut pemukiman yang terbentuk dari unsur-unsur working, opportunities, circulation, housing, recreation, and other living facilities (Hari Sabari Yunus, 1987). Unsur circulation adalah jaringan transportasi dan komunikasi yang ada dalam pemukiman. Sistem transportasi dan komunikasi meliputi sistem internal dan eksternal. Transportasi merupakan tolok ukur dalam interaksi keruangan antar wilayah dan sangat penting peranannya dalam menunjang proses perkembangan siatu wilayah.

Train - If It's Love :))

While everybody else is getting out of bed
I'm usually getting in it, I'm not in it to win it
And there's a thousand ways you can skin it

My feet have been on the floor flat like an idle singer
Remember winger, I digress
I confess you are the best thing in my life

But I'm afraid when I hear stories about a husband and wife
There's no happy endings, no Henry Lee
But you are the greatest thing about me

If it's love
And we decide that it's forever
No one else could do it better

If it's love
And we're two birds of a feather
Then the rest is just whenever

And if I'm addicted to loving you
And you're addicted to my love too
We can be them two birds of a feather that flock together

Love, love
Got to have something to keep us together
Love, love
That's enough for me

Took a loan on a house I own
Can't be a queen bee without a bee throne
I wanna buy you everything except cologne 'cause it's poison

We can travel to Spain where the rain falls
Mainly on the plain side and sing
'Cause it is we can laugh, we can sing
Have ten kids and give them everything

Hold our cell phones up in the air
And just be glad that we made it here alive
On a spinning ball in the middle of space
I love you from your toes to your face

If it's love
And we decide that it's forever
No one else could do it better

If it's love
And we're two birds of a feather
Then the rest is just whenever

And if I'm addicted to loving you
And you're addicted to my love too
We can be them two birds of a feather that flock together

Love, love
Got to have something to keep us together
Love, love
That's enough for me

You can move in, I won't ask where you've been
'Cause everybody has a past
When we're older we'll do it all over again

When everybody else is getting out of bed
I'm usually getting in it, I'm not in it to win it
I'm in it for you

If it's love
And we're two birds of a feather
Then the rest is just whenever
Then the rest is just whenever

If it's love
And we decide that it's forever
No one else could do it better

And if I'm addicted to loving you
And you're addicted to my love too
We can be them two birds of a feather that flock together

Love, love
Got to have something to keep us together
Love, love
Got to have something to keep us together
Love, love
That's enough for me

Sabtu, 09 Oktober 2010

Eenie Meenie Lyrics

Eenie Meenie Lyrics: "Justin Bieber Eenie Meenie lyrics in the My World 2.0 Album. These Eenie Meenie lyrics are performed by Justin Bieber Get the music video and song lyrics here. Eenie, meenie, miney, mo Catch a bad chick by her toe If she holla If, if, if she holla, let h"

Kamis, 30 September 2010

1st day in october

Selamat pagi...Assalamualaikum..
Subhanallah udah tanggal 1 oktober aja. Gak kerasa juga ternyata udah hampir sebulan mulai aktif kuliah lagi, galau sm tugas, daaaannnn lembur tugas kayak hari ini.. uwuwuwuw
Kemaren sempet gitu kan libur lama, libur semester sama libur lebaran. Seneng sih bisa liburan, yg berarti bisa merasa sedikiiiittt lebih bebas dari yang namanya tugas. Tapi kangen juga sama yang namanya tugas. Kangen lembur, kangen galau, kangen pulang malem, kangen stroming, banyak deh yg dikangenin. well, sekarang udah balik lagi tuh ke keadaan yg semula..TUGAS!!! Kalo udah gini liburan kemaren rasanya cuma mimpi doangg. Gak papa sih, yg penting bisa ngrasain libur :P
mmmm....mau cerita tentang malem ini aja ah. As usual, kayak malem2 sebelumnya aja, kegiatannya cuma lembur tugas, so jadilah jam segini 12:53 waktu laptop saya, masih belum tidur. Sebenernya capek banget rasanya. Gimana nggak deh, pulang kuliah masih ada sosialisasi IMPI ke maba 2010, abis itu niatnya pengen bobok siang, tapi gatau napa g bisa bobok..oke, jadilah cuma gegulingan sambil nonton tivi. next, sempet ketiduran sebentar trus dibangunin dengan tidak terhormat sama adek, minta anter ke Gramedia, hujan deres mameeeennn!!!! Hujan deres plus angin, petir menyambar-nyambar, belum lagi lampu kota yg mati (kesamber petir kali). Butuh konsentrasi tingkat tinggi nyetir dalam keadaan begini. Nyampe rumah lagi udah jam 10, trus langsung buka laptop buat ngerjain tugas. TAPI APA?? Sampe jam segini tugas gue belum kelar!!! paraaaahhh!!!
ah hari pertama oktobernya kok gini amat sih. Tega deh. Harusnya udah mimpi kemana-mana dari tadi. Yaudah sih, terima nasib aja, toh ini buat masa depan kan? --> menghibur diri. Yang penting tetep semangat aja. Semester 3 masih panjang. Kalo kata senior-senior: 'ini mah belum apa-apa kali, liat ntar deh semester atas, lebih berat dari ini!'. Ok fine! itung-itung buat latihan kali yaa..Semangat!!!

Minggu, 05 September 2010

Morfologi Kota Padang

Secara astronomis Kota Padang berada antara 0°44'00"- 1°08'35" LS serta antara 100°05'05"-100°34'09" BT. Secara geografis Kota Padang terletang dipantai barat pulau Sumatra. Kota Padang memiliki luas keseluruhan 694,96 km², sekitar lebih dari 60% dari luas keseluruhan yaitu ± 434,63 km² merupakan daerah perbukitan yang ditutupi hutan lindung, sedangkan selebihnya merupakan daerah efektif perkotaan. Kota Padang memiliki garis pantai sepanjang 84 km dan memiliki pulau kecil sebanyak 19 buah. Kota Padang dialiri oleh 5 sungai besar dan 16 sungai kecil, dengan sungai terpanjang yaitu Sungai Batang Kandis sepanjang 20 km.

Pada awalnya Kota Padang hanya berupa sebuah perkampungan kecil yang terletak di muara Sungai Batang Arau. Pada abad ke 17 VOC (Vereenigde Oost IndischeCompagnie) berhasil menemukan Kota Padang. Karena memiliki muara yang bagus dan besar maka kemudian VOC tertatik untuk menjadikan Kota Padang menjadi kota pelabuhan dan pemukiman baru. Kota Padang kemudian tumbuh menjadi kota bandar pelabuhan dan pemukiman yang cukup ramai di pantai barat Sumatera. Karena terjadi pemberontakan dari masyarakat atas kekuasaan VOC maka pada tanggal 9 Maret 1950, Padang dikembalikan ke tangan Indonesia yang merupakan negara bagian melalui Surat Keputusan Presiden Serikat (RIS), No.111 tanggal 9 Maret 1950. Kemudian melalui Surat Keputusan Gubernur Sumatera Tengah No. 65/GP-50, tanggal 15 Agustus 1950 menetapkan Pemerintahan Kota Padang sebagai suatu daerah otonom sementara menunggu penetapannya sesuai UU No. 225 tahun 1948. Pada akhirnya tanggal 29 Mei 1958, Gubernur Sumatera Barat melalui Surat Keputusan No. 1/g/PD/1958 secara de facto menetapkan Kota Padang menjadi ibukota propinsi Sumatera Barat.

Kota yang mengalami perkembangan dari waktu ke waktu menyangkut aspek-aspek seperti politik, sosial budaya, teknologi, ekonomi, dan fisik ruang kota itu sendiri. Secara kasat mata perkembangan fisik kota dapat diindikasikan dengan penggunaan lahannya. Oleh karena itu eksistensi kota dapat ditinjau paling sedikitnya dari dua matra yaitu: matra “settlement morphology” dan matra “legal articulation”. Kedua matra ini saling berkaitan langsung dan berimplikasi pada bentuk wujud dan karakteristik kota. Mengamati bagaimana percepatan perembetan kota ke arah luar dapat dilihat dari daerah terbangun kotanya (urban built up areas). Sedangkan daerah diluar built up areas yang berupa zona-zona pinggiran (fringe zone) merupakan lokasi baru bagi pengembangan fungsi-fungsi perkotaan terutama fungsi pemukiman. Kondisi seperti ini dapat dilihat di Kota Padang.

Kota Padang memiliki luas daerah keseluruhan 69.496 Ha dengan jumlah penduduk sekitar 765.540 jiwa. Ruang aktivitas penduduk masih terpusat ke pusat kota yang fungsinya lebih dominan berupa kawasan perdagangan dan perkantoran (pemerintah dan swasta). Selain itu 60% pemukimannya tersebar di kawasan pusat kota dibanding kawasan pinggirannya. Hal ini berpengaruh dengan keadaan lalu lintasnya yang menuju pusat kota pada pagi dan sore hari.

Kota Padang tergolong “Over Bounded City”, maksudnya batas fisik daerah terbangun berada di dalam batas administrasi kota. Wilayah administrasi kota meliputi wilayah yang luas dan meliputi daerah-daerah yang masih menunjukkan ciri pedesaan walaupun masih di dalam wilayah administrasi suatu kota. Kondisi seperti ini juga masih dalam perencanaan tata ruang dan kemungkinan perluasan masih dalam wewenang dan kontrol pemerintah kota itu sendiri. Seperti Kota Padang yang masig sangat memungkinkan untuk melakukan pengembangan dan perluasan kotanya ke utara maupun ke timur kota.